Gumi
Sasak, mendengar nama itu saja hatiku terasa damai, tentram, dan tenang. Kenapa
tidak? Siapa yang tidak mengetahui Gumi Sasak? Lombok? Sebuah pulau yang
terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki ratusan tempat wisata
nan indah, adat istiadat yang masih tetap terjaga kelestariannya hingga saat
ini dan budayanya yang bisa menggugah dunia. Berbagai kearifan lokal tersedia
di sana sehingga membuat turis asing maupun lokal selalu singgah setiap hari.
Akibat dari itu Gumi Sasak menjadi semakin sangat terkenal dan tersohor ke
penjuru dunia. Namun mari kita lihat, apakah ada dampak negatif dari itu semua?
Tentu saja ada, semua ini berdampak pada budayanya, yang dulu berdasarkan
sesuai ketentuan leluhur namun kini menjadi sebuah kepentingan yang
disiar-siarkan agar menarik begitu banyak pengunjung, yang dulunya sesuai
dengan ketentuannya namun kini diobrak-abrik guna memenuhi kepuasan pengunjung.
Akibatnya kini budaya Sasak yang dulu sakral akan tetapi kini hanya menjadi
hiburan semata.
Melihat
daripada itu semua, para budayawan sasak, tokoh agama, dan tokoh adat mulai
resah dengan semua itu. Sehingga para tokoh ini sepakat untuk bersama-sama
ingin mengembalikan budaya sasak kembali kepada keaslian dan kesakralannya,
sehingga terbentuklah “Piagam Gumi Sasak”. Piagam Gumi Sasak tidak terbentuk
atau tidak dibentuk dengan mudahnya, semua itu butuh proses panjang dan
kesepakatan bersama baik dari tokoh adat, tokoh agama, dan budayawan yang ada
di sana. Piagam Gumi Sasak sejatinya dibentuk untuk bersama-sama meluruskan
budaya-budaya yang sudah melenceng dari keasliannya.
Menurut
Bapak Murahim, S.Pd., M.Pd. salah seorang dosen di Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram yang juga salah seorang
saksi yang menghadiri peristiwa pembentukan Piagam Gumi Sasak, pada intinya
Piagam Gumi Sasak ini dibentuk karena timbulnya keprihatinan para tokoh karena
melihat budaya di Sasak sudah melenceng dan jauh dari aturan-aturan yang sudah
ada dari dulu dan bersifat tidak jelas. Oleh karena itu para tokoh ini sepakat
untuk mengembalikan budaya mereka yang sudah di obrak-abrik oleh kepentingan
pribadi dari sebagian orang. Hal itulah yang membuat mereka (para tokoh)
bersatu dan membuat kesepakatan untuk manifesto kebudayaan, akan tetapi kata manifesto tidak cocok untuk digunakan
sehingga terpikir ide untuk menamakannya Piagam Gumi Sasak. Sehingga disusunlah
Piagam Gumi Sasak itu oleh tim dari lembaga Rontal dan mengajak untuk
bersama-sama kita berjuang sebagai generasi penerus untuk bertanggung jawab
mengembalikan dan melestarikan budaya yang ada pada Gumi Sasak ini. Sehingga
Piagam Gumi Sasak selesai dibuat dan dibacakan pertama kali di Museum NTB.
Berikut adalah bunyi dari Piagam Sasak:
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah
yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang.
Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan
melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang
terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca
yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak
diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan,
mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan,
pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan
berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini.
Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan
kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa
ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain
dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan
hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai
berikut.
Pertama :Berjuang bersama menggali dan
menegakkan jati diri bangsa Sasak demi
kedaulatan
dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua :Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan
khazanah
intelektual
bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga :Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa
Sasak melalui karya-
karya
kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan
tradisionalitas.
Keempat :Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak
baru dengan kejatidirian
yang kuat untuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima :Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat
yang egaliter, bersatu danberwibawa dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun
Jimawal/1437H
26 Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,
1.
Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq Windia M. Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H.
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.
Pd.
Sekian artikel yang dapat penulis
ceritakan, harapan penulis pribadi adalah semoga budaya sasak kembali utuh dan
sakral seperti sedia kala sehingga tidak melenceng lagi dan tidak menimbulkann
kesan negatif orang lain terhadap Gumi Sasak tercinta.


Awesome!!!!
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusKagum sama gumi sasak
BalasHapusArtikel yang bermanfaat
BalasHapusMantap
BalasHapusSaya diminta untuk komen oleh si empunya blog
BalasHapuskembangkan!
BalasHapuskembangkan!
BalasHapusbangsa sasak adalah bangsa yang merdeka.
BalasHapusBudaya Sasak terbaik
BalasHapusTerbaik tetap jaya terus sasak
BalasHapusPiagam sasak kerwn!
BalasHapus